EDUKASI

Setelah Setahun Derita Berlalu

Berbagai kalangan masyarakat lakukan Doa dan Dzikir bersama mengenang 28 September 2019 di Anjugan pantai Talise Palu,28/09/2019,(IST)

Palu,Swatvnews.id – Sejenak kita mengenang peristiwa dahsyat 28 September 2018 setahun lalu. Saat itu bumi Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) Sulawesi Tengah diluluhlatakkan lindu yang mengguncang dengan kekuatan 7, 4 skala richter (SR). Palu, Donggala dan Sigi remuk redam. Dalam hitungan detik Jumat sore itu, amarah alam memporak porandakan rumah, jalan, dan bangunan. Tak ada tawa yang tersisa yang adalah ribuan orang bersimpuh pilu meretapi kehilangan harta, anak , orang tua dan sanak saudara.

Ratusan masyarakat lakukan doa dan dzikir bersama peringati 1 tahun pasca bencana,Sabtu 28/09) IST

Hari ini kita mengenang kerabat yang masih tertimbun akibat tanah luluh (likuifaksi) diwilayah Petobo, Perumnas Balaroa dan Jono Oge Kabupaten Sigi. Pun ingatan terperihkan kepada handai taulan dan anak-anak kita yang digulung gelombang raya yang maha dahsyat (Tsunami) diwilyah pantai Talise dan Taman Ria. Untuk kepentingan itu kita kirimkan Alfatiha….

Empat menit jelang azhan magrib, Jumat 28 Septemebr 2018 adalah hari tak pernah terlupakan. Bagi masyarakat Palu, Donggala dan Sigi adalah hari melawan lupa. Hari dimana manusia Pasigala berada dititik nadir paling rendah. Akibatnya ratusan ribu manusia eksodus, mengungsi keluar daerah Sulawesi Tengah mencari perlindungan meredahkan keputus asaan.

Namun sebagai orang yang beriman bencana gempa bumi itu dipandang sebuah ujian Allah Jalla Jalaluhu. Kita pandang bencana itu sebagai ujian kesungguhan dan keseriusan keimanan kita. Sebagai resiko logis orang beriman tentulah diuji dengan berbagai musibah (bencana), kesenangan dan kesusahan, kepahitan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, ujian syahwat dan syubhat.

Gempa bumi sejatinya adalah peringatan Allah SWT kepada seluruh umatnya. Gempa bumi bukan sekadar fenomena alam belaka yang dianggap biasa. Allah menciptakan musibah dan bencana alam untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan segera kembali kepada Allah.

Ribuan Warga padati bekas likuifaksi kelurahan balaroa kota Palu untuk melakuksn dzikir barsama mengenang tragedi 28 september 2018,sabtu(28/09) Ist

Maka dalam mengahdapi ujian tersebut, kita sejatinya tak boleh goyah apalagi berpaling dari allah SWT. Modal utama kita adalah kesabaran dan ini merupakan sikap keniscayaan yang harus dipilih dan digunakan, sebab kalau ia tidak sabar, kegagalan siap menghadang. Kalau sudah gagal maka kerugianlah yang kita peroleh.
Musibah Jumat 28 September tahun lalu termasuk salah satu ujian Allah bagi orang beriman. Jika kita mengaku hamba Allah yang beriman, maka akan diuji agar menjadi manusia yang beriman dan istiqamah dalam keimanannya. Jika tidak ada iman, tidak akan diuji

Karena itu boleh saja bumi berguncang, tanah longsor yang menenggelamkan harta, rumah dan diri kita sekalipun, iman kita tak boleh goyang, bahkan iman makin kokoh dan kuat .Sungguh beruntung seorang Muslim itu, jika diberi ujian ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur.

Bencana alam, bentuk sebuah teguran bagi orang –orang beriman agar mereka kembali pada jalan yang benar. Allah mengingatkan dengan tanda –tanda alam agar manusia kembali pada hakikatnya. Agar mereka kembali kepada aturan yang semestinya diikuti. Inilah cara indah Allah dalam mengembalikan sekaligus memberi pelajaran bagi orang –orang yang memiliki akal. Namun di sisi lain, bencana ini pun dapat pula berlaku sebagai sebuah azab. Azab bagi orang –orang yang tetap saja berlaku lalai dan kufur atas nikmatNya. Azab untuk menghukum orang –orang yang tetap keras kepala dan menghiraukan tanda –tanda kekuasanNya yang telah Ia banyak tunjukkan dihadapan mata mereka.

Menara mesjid Al-Mujahidin Kel.Silae miring akibar gempa,foto yusuf/swatvnews.id

Memang secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa pada dirinya, musibah dalam arti suatu kejadian yang tidak menyenangkan, musibah yang menyusahkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental.

Yang diinginkan oleh setiap orang adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, melegakan dan sebagainya.Bagi seorang mukmin, musibah yang terjadi dan menimpa dirinya di pandangnya sebagai ujian hidup. Maka dibalik ujian itulah yang perlu direnungkan, apa hikmah di balik ujian itu?

Karena seorang mukmin dengan konsepsi keimanannya akan mampu memandang persoalan dengan sudut pandang yang berbeda dengan umumnya manusia. Baginya ukuran baik atau buruknya sesuatu, benar atau salah, suka dan dukanya sesuatu semua dikembalikan nilainya kepada Allah swt.

Hal inilah yang menjadikan seoarang mukmin itu senantiasa berpikir positif dan optimis dalam mengarungi kehidupannya, sekalipun harus menghadapi berbagai ujian, atau kenyataan paling pahit dalam hidupnya, ia tidak akan mudah patah dan berputus asa . Karena ia yakin bahwa setiap kejadian pastilah sudah dalam kehendak dan takdir Allah swt.
Tetapi, yang tidak boleh kita lupakan adalah ketetapan Allah Ta’ala. Segala sesuatu terjadi di bawah ketatapan Allah.. “Katakanlah, ‘Tidak akan menimpa kami segala sesuatu, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah pelindung kami. Dan hanya kepada Allah bertawakkal orang-orang yang beriman.’” (At-Taubah : 51)

Maka tepatlah apa yang di sabdakan Nabi saw : “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin bahwa semua urusannya baik, yang demikaian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mukmin, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah ia maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan bersabarlah ia maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim )

Hadist ini dapat menjadi landasan berpikir seorang mukmin sehingga ia senantiasa berada pada jalan kebenaran, ia selalu memiliki pandangan yang lurus kedepan, pandangannya kuat dan mendasar, luas menjangkau dan seimbang dalam mensikapi segala sesuatunya, dengan demikian ia akan memiliki kesiapan secara mental, pemikiran, lahir dan batin dalam menghadapi realita dan berbagai kemungkinan yang akan menimpa di dalam hidupnya.

Hal –hal inilah yang perlu kita insyafi di dalam kehidupan kita, di negeri tercinta ini. Bencana yang datang silih berganti, mulai dari tsunami, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga bencana kekeringan yang saat ini tengah mengancam beberapa daerah di negeri ini, adakah ini sebuah teguran untuk kita kembali ke jalan semestinya? Ataukah semua ini adalah sebuah bentuk azab yang diberikan oleh sang mahakuasa, dengan cara Ia mencabut keberkahan bumi dan langit tempat kita berpijak dan menjatuhkan bencana yang silih berganti karena kita senantiasa keras kepala, selalu lalai, dan tetap berbuat kekufuran serta dosa yang menyakiti alam semesta? Adakah ini semua kita sikapi dengan biasa saja ataukah kita untuk mulai bertaubat dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik?.
Suatu ketika gempa melanda Madinah, Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi. “Ada apa denganmu?”

Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri Muslim itu kepada masyarakat pascagempa,“Wahai rakyatku tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Terkadang bumi bergetar dan berguncang karena muak dengan perilaku manusia yang menorehkan aneka keburukan, nista, keserakahan, dan arogansi di atas punggung bumi. Gempa bumi adalah suatu bentuk musibah berupa peringatan, teguran, bahkan hukuman dari Allah al-Jabbar (Dzat yang Mahaperkasa) atas perbuatan manusia yang menentang-Nya.

“Saudaraku,, musibah dan bencana, bukan tontonan. Bukan pula sekadar membahas pemulihan bangunan fisik. Melainkan jauh yang lebih utama adalah pemulihan mental dan Nurani. Musibah ini adalah renungan segera bagi kita semua. Ya Rabbana… Maafkan kami, ampuni kami,”.

Gempa bumi setahun lalu adalah cara Allah mendidik kita. Kebahagiaan dan ujian kesulitan serta kesempitan hanya satu di antara banyak pintu tarbiyah Allah. Andai saja kita mau mencoba untuk memahami apa yang sudah Allah takdirkan dan ciptakan yang ada pada diri kita maupun yang ada di muka bumi, alam semesta dan makhluk Allah lainnya, maka sungguh itu akan menjadi tarbiyah dari Allah untuk kita

Allah tak pernah janjikan langit selalu biru, jalan hidup tanpa batu, terik tanpa hujan, kebahagiaan tanpa kesedihan, sukses tanpa perjuangan. Tapi, Allah janjikan kesulitan bersama kemudahan, rahmat dalam ujian, ganjaran dalam kesabaran, keteguhan dalam perjuangan.

Penulis : Darlis Muhammad
Editir . : Moh. Yusuf

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close