SULTENG

11 Bulan Pasca Gempa, Pengungsi Poboya Dapat Huntara

KUN Humanity System+ Serahkah Terimakan Huntara Berbahan Bamb

rumah transisi pascabencana di Desa Poboya sebanyak 12 unit yang dibangun oleh KUN Humaniti System Plash dilapangan desa poboya, Minggu 14/08/2019.(foto,swatvnews.id)

Palu, Swatvnews.id – KUN Humanity System Plash, bersama Alumni Brawijaya Golf Club (ABG) bekerjasama dengan masyarakat yang mengungsi di desa Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah menjalankan program Community Based Bamboo T-Shelter and Wash terkait penanggulangan pascabencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018, Minggu 04/08/2019

12 kepala keluarga mendapatkan 12 unit Hunian Sementara(Huntara) dari KUN Humanity System Plash acara penyelenggaraan seremonial serah terima berlangsung dilapangan desa poboya 14 agustus 2019.

Pada kesempatan yang sama, KUN juga mengapresiasi pihak Desa Poboya secara dermawan meminjamkan lahan desa kepada masyarakat yang mengungsi di wilayahnya.

Direktur Humaniti Sistem+, Dokter Candra Sembiring mengungkapkan, Program berbasis masyarakat ini bertujuan untuk mendirikan rumah transisi pascabencana di Desa Poboya sebanyak 12 unit. Yang mana kami mendapatkan dukungan dari ABG, salah satu Lembaga ikatan alumni mahasiswa Brawijaya yang menangani dampak memiliki hati terhadap aksi social dan kemanusiaan.

rumah transisi pascabencana di Desa Poboya

“Kami telah menginisiasi rumah transisi ramah lingkungan, seperti penggunaan material bambu dan material alami lainnya yang berada di sekitar pedesaan,” ujarnya.

Dirnya menambahkan, Keberadaan bambu, rotan, hingga alang-alang menjadi penyangga penting bagi para penyintas di desa ini dan sekitarnya.

Sementara itu Bagi warga, keberadaan rumah transisi ini telah memberi manfaat yang besar, seperti rasa aman, nyaman, dengan proses konstruksi yang tidak membutuhkan waktu lama. KUN menilai bambu telah menjadi material penting sebagai penyangga utama dalam penanggulanan pascabencana di Palu maupun daerah lainnya di Indonesia.

Tanaman bambu hampir tumbuh subur dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Potensi ini bisa menjawab akan kebutuhan proses rekonstruksi pascabencana, khususnya sebagai penyediaan rumah transisi dengan skala proses rekonstruksi yang relatif cepat.

Program pengadaan rumah transisi ini, telah melibatkan warga sejak perencanaan hingga proses konstruksi. Sehingga warga mendapatkan banyak pembelajaran akan pentingnya kegunaan bambu, menumbuhkan semangat gotong royong, tehnik ketukangan bambu, serta isu kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Disisi lain gerakan ini juga telah mendorong para pengrajin di desa untuk memasok kebutuhan atap rumbia bagi rumah bambu ini. Tentunya dengan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaannya, pengerajin dan petani bamboo, yang tersebar dari Pantai Barat sampai ke Kulawi Selatan yang berjarak kurang lebih 150 kilometer, juga mendapatkan manfaat dari program ini.

KUN Humanity System+ adalah sebuah lembaga non pemerintah dari Bandung yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sejak 2018. Khususnya, menangani tanggap darurat kebencanaan.

Lembaga itu, telah terlibat dalam gerakan kemanusiaan lainnya, seperti di Lombok dan Banten. Selain itu, KUN juga telah membuat berbagai pelatihan emergency response bagi warga dan porter yang tinggal di wilayah hutan dan pegunungan di Sumatera dan Jawa.

Rekonstruksi pembangunan pascabencana telah menjadi isu penting di Indonesia. Proses rekonstruksi menyebabkan naiknya kebutuhan berbagai material bangunan dengan harga yang relatif mahal. Termasuk tidak adanya pendampingan dan proses pelibatan warga dalam membangun huniannya.

Sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayahnya yang rawan bencana kata Dokter Cahandra Sembiri, Kondisi ini menyebabkan warga kembali membangun rumah bertembok tenpa pemahaman konstruksi yang benar, yang justru bisa mengancam kehidupannya di kemudian hari.
Untuk itu, KUN mendorong penggunaan bambu dan materi alami lainnya sebagai jawaban hunian di wilayah bencana.

Olehnya itu kata dia, Melalui desain yang unik, adaptif, dan disesuaikan dengan nilai budaya lokal, menjadikan rumah hunian transisi ini memiliki nilai dan filosofi yang tinggi. Termasuk melibatkan para ahli bambu dan arsitektur untuk saling berkolaborasi.

β€œMelalui pengawetan yang baik, rumah hunian ini diperkirakan bisa bertahan 20 tahun,” ungkap dokter Chandra Sembiring.

Untuk itu, warga memiliki waktu yang cukup untuk menanam bambu dilahan sendiri dan memenuhi kebutuhan mereka.

“Dalam lima hingga delapan tahun, warga bisa memanen bambu terbaiknya. Dan ini membuka peluang usaha bambu ke depan,” katanya.

Dalam wawancaranya, dr Chandra menambahkan sekalipun kami mungkin baru mengambil sedikit dari alam kita, KUN berkomitmen untuk melakukan penanaman belasan ribu bambu dan ribuan pohon untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di Sulawesi Tengah ini.

Tentunya, dengan penanaman kembali yang direncanakan oleh KUN, diharapkan dalam 5 tahun kedepan, masyarakat dapat memetik dampak positif dan Sulawesi Tengah dapat mandiri secara material konstruksi tanpa merusak hutan dan alamnya.(Swatvnews.id/07)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close