EKOBISSULTENG
Trending

Meskipun Dilanda Bencana, Ekonomi Sulteng Tumbuh 6,30 Persen Pada Tahun 2018

Miyono Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah

Palu, swatvnews.id – Meskipun empat daerah di Sulawesi tengah yaitu kota palu, kabupaten sigi, donggala, dan parigi mouton dilanda bencana alam gempa bumi , tsunami serta fonemomena likuefaksi beberapa waktu lalu, namun pertumbuhan perokonomian di Sulawesi Tengah pada tahun 2018, masih tetap tumbuh dengan angka yang cukup tinggi .

Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia sulteng , miyono menjelaskan, bank Indonesia mencatat secara tahunan, perekonomian di Sulteng tahun 2018 tumbuh sebesar 6,30 persen, angka ini sesuai dengan proyeksi awal di kisaran 6,1 sampai 6,5 persen.

“Walaupun mengalami penurunan dibanding tahun 2017 yakni 7,10 persen, saya kira pertumbuhan ekonomi di Sulteng terutama di tiga daerah tersebut cukup tinggi sebab masih sanggup tumbuh pascabencana yang cukup besar,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng Miyono saat memaparkan Kajian Ekonimi dan Keuangan Regional Sulteng awal 2019 di Palu, Jumat.

Menurut Miyono tidak mudah meraih angka tersebut, apalagi setelah kota palu, kabupaten sigi, donggala dan parigi mouton dilanda bencana beberapa waktu lalu yang mengakibatkan sebagian masyarakat kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan terpaksa harus tinggal di tenda pengungsian dan hunian sementara (huntara).

Sementara itu secara triwulan pada Triwulan IV 2018 , ekonomi Sulteng tumbuh 5,37 persen, melambat dibanding triwulan sebelumnya 7,05 persen. Perlambatan itu disebabkan faktor gempa, tsunami dan likuefaksi,” ucapnya.

Miyono juga menambahkan untuk sektor ekonomi yang paling terpuruk akibat bencana tersebut, antara lain perdagangan, akomodasi yakni perhotelan dan restoran serta pertanian.

“Sedangkan sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi adalah industri pengolahan dan pertambangan yang dikarenakan kinerja ekspor gas amonia dan hilirisasi lanjutan pabrik stainless steel yakni Hot Rolled Coiled (HRC) dan Clod Rolled Coiled (CRC) yang masih cukup baik,” imbuhnya.

Sementara inflasi Sulteng pada Desember 2018 tercatat 6,46 persen, lebih tinggi dibanding September yang hanya 2,52 persen.

Peningkatan inflasi disebabkan oleh faktor gempa, tsunami dan likuefaksi yang mengakibatkan menurunnya produksi bahan makanan, terhambatnya distribusi barang-barang konstruksi dan meningkatnya permintaan pada beberapa jenis kebutuhan pokok masyarakat.

“Kita tahu sendiri kan, waktu bencana bahan-bahan makanan susah didapat bahkan tidak ada yang menjual saat itu. Harga bahan-bahan bangunan juga sempat mahal karena banyak dibeli warga untuk memperbaiko rumahnya. Tapi itu sudah teratasi,” katanya.
(Gabdika/swatvnews.id//2019).

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close